image

Ketika hujan turun, selalu begitu. Gemericiknya, gemuruhnya, seolah membisikkan cerita padaku. Rinainya, tetes-tetes beningnya yang berjatuhan dari langit, seolah memproyeksikan imaji cerita tersebut. Cerita tentang kenangan. Cerita tentang harapan. Cerita tentang cerita lainnya.

Pernah hujan bercerita padaku tentang kita yang basah kuyup sepulang sekolah. Aku di atas sepeda. Kau berjalan kaki. Tapi sepedaku seirama dengan langkah kakimu. Entahlah, tak terpikir untuk berteduh waktu itu. Kita menikmati guyuran hujan. Semua anak-anak juga menikmatinya. Sesekali menengadahkan tangan mencoba menggenggam hujan, sesekali mengulurkan lidah mencoba menikmati dinginnya hujan masuk ke korongkongan. Tak peduli seragam basah. Tak peduli sepatu sekolah basah. Biarlah.. toh, besok libur sekolah. Kupikir teman-teman juga berpikir yang sama.

Ceritanya memang hanya sebatas itu. Tapi siklus hujan tak berhenti. Saat seragam dan sepatu kita dijemur, titik-titik air yang ada di sana diangkat matahari bersama cerita di dalamnya. Lalu mereka bertemu dengan cerita-cerita lainnya di awan. Ketika hujan, saat aku mendengar gemericik atau gemuruhnya, juga saat aku melihat tetes-tetes dalam rinai ataupun derasnya, saat itu lah hujan menceritakan cerita itu padaku. Cerita tentang kenangan. Cerita tentang harapan. Cerita tentang cerita lainnya.

Ketika hujan turun, selalu begitu. Hujan menceritakan kepadaku kisah tentang kasih ibu. Betapa tidak, tak terhitung airmata yang terevaporasi saat mengandung kita. Mengusap kepala sembari menyusui kita. Mencemaskan kesehatan kita. Dalam setiap doanya tentang masa depan kita. Tak terhitung bulir-bulir keringat yang tercucur saat perihnya melahirkan kita. Dalam perjuangannya membesarkan kita. Air mata itu. Keringat itu. Setiap titik-titiknya diangkat matahari dan dikumpulkannya di awan. Bertemu dengan cerita-cerita lainnya.

Ketika hujan turun, selalu begitu. Hujan menceritakan tentang semangat. Tentang teladan. Begitu banyak bulir-bulir keringat dari buruh pabrik. Dari tukang becak. Dari pedagang asong. Dari semua orang yang berusaha keras demi kehidupan keluarganya. Begitu banyak juga darah tertumpah bersama kilatan pedang. Bersama desing peluru. Bersama kisah heroik pejuang agama dan bangsa. Semuanya diangkat ke langit bersama cerita-cerita epik itu. Berkumpul dalam awan. Lalu tumpah ruah ke bumi. Menceritakan kisah mereka padaku.

Ketika hujan turun, selalu begitu. Hujan menceritakan padaku tentang harapan. Tentang rasa takut. Tentang getar cinta. Tiga rasa itu bercampur dalam sujud seorang hamba. Dalam interaksinya dengan tuhannya di dinginnya sepertiga malam terakhir. Syahdu. Ia menangis tersedu. Menyesali semua dosanya. Memohon ampunan-Nya. Merengek. Berharap perjumpaan dengan-Nya. Air mata itu mungkin membasahi sajadahnya. Mungkin juga tissue atau lengan bajunya. Lalu, saat di bawah metahari, titik-titik itu diangkat ke langit. Lalu menjadi cerita yang kudapat dari setiap hujan.

Begitulah.. dalam siklus hujan, ada siklus cerita yang tersimpan di dalamnya. Nanti, di setiap hujan, dengarkanlah. Tatap tiap tetesnya yang berjatuhan. Hujan akan menceritakan semuanya.

Ketika hujan turun. . . .

Advertisements