Tragedi Halte Tugu Tani – seperti itu kebanyakan orang menyebutnya – masih terlalu sesak untuk diingat. Sampai sekarang pemberitaan di berbagai media masih membahas berbagai sudut dari peristiwa naas di Jl Ridwan Rais, tepat di depan Kantor Pelayanan Pajak tersebut. Bayangkan… Sembilan orang meregang nyawa ditabrak sebuah laju 100 km/jam sebuah mobil maut yang dikendarai wanita pecandu narkotik. Hari yang cerah itu, ahad, 22 Januari 2012, saat seharusnya mereka menghiasinya dengan senyum lebar untuk berlibur, kematian datang begitu mendadak. Tak terduga. Menyesakkan. Mengguncang hati keluarga dan orang terdekat para korban. Menyentak nurani setiap orang yang mendengarnya. Empat orang sekeluarga yang jauh-jauh berlibur dari Jepara tercabut nyawa sekaligus. Seorang suami harus meninggalkan istrinya tanpa sempat melihat anak pertamanya dilahirkan. Juga sahabat yang sangat disayangangi dan orang-orang yang dekat di hati.

Ada sebuah video ‘recommended‘ yang muncul di halaman channel youtube saya. Saya jadi teringat dengan Firmansyah, salah satu korban yang meninggalkan istrinya yang baru setahun dinikahinya, yang sedang mengandung 7 bulan. Mungkin seperti itulah rasa kehilangan seorang istri. Begitu juga anak yang lahir tanpa seorang ayah. Hanya saja, bedanya, di video ini, sang suami sempat merekam pesan terakhir untuk anaknya yang akan lahir.

Izrail hanya menyapa kita. Selalu menyapa kita. Karena setiap kematian yang manusia saksikan dan dengarkan adalah sapaan lembut darinya. Mengingatkan bahwa cepat atau lambat perpisahan antara jasad dan jiwa manusia pasti terjadi.

“If I die tomorrow.. I’d be alright

because I belive… That after we’re gone..

The spirit carries on”

Saya teringat lirik “The Spirit Carries On“, sebuah lagu favorit dari band legendaris: Dream Theater. Lagu ini adalah sebuah renungan tentang kematian.

Tak banyak yang bisa saya bahas di sini. Renungkan saja tentang misteri yang pasti: kematian. Silakan renungkan sembari mendengarkan lagu tadi.

Advertisements