Jalannya kaku. Setapak demi setapak. Meraba-raba ubin dengan indra perasanya di telapak kaki. Ya.. begitulah caranya melihat. Lalu ia naik ke mimbar. Walau tatapannya kosong, aku bisa melihat keluasan pandangnya. Senyumnya tulus dilemparkan kepada kami, para jama’ah shubuh di Masjid besar ini.  Ada getar jiwa yang kuat dari sosok pria kecil itu.

Ustadz Juju, panggil saja ia seperti itu. Dari umur satu tahun, ia sudah tidak bisa membedakan siang dan malam, terang dan gelap. Tapi dari pria itu, aku belajar tentang kesyukuran. Sudut pandangnya tentang kesyukuran menyadarkan bahwa sungguh aku termasuk orang yang sedikit sekali bersyukur.

Untuk sedikit memahami sudut pandang syukur ini, coba perhatikan gambar di bawah. Apa yang anda lihat di sana?


Apa yang anda lihat di sana? Sekilas, dan sebagian besar orang akan mengatakan itu adalah sebuah titik hitam..

Coba pandangi sekali lagi. Apa yang anda lihat pada gambar di atas? Kali ini dengan sudut pandang lain. Apakah tetap sebagai sebuah titik hitam? Tapi maksudnya bukan dengan memiringkan sudut anda ke layar monitor ya.. (ini bukan hologram atau gambar 3 dimensi lho.. hhe)

Apakah masih dengan jawaban yang sama: sebuah titik hitam?

Bolehkah saya menjawab begini: “sebuah persegi putih polos dengan setitik kecil hitam di tengahnya”?

Tentu tidak salah kan? dan itu adalah sudut pandang yang berbeda tentang satu hal yang sama.

Jika titik hitam itu dianalogikan dengan masalah, musibah, musuh, dan setiap kekurangan; dan jika warna putih di sekitarnya adalah nikmat, sahabat setia, dan setiap kelapangan serta kemudahan; maka akan tampak bagaimana sudut pandang kita tentang nikmat dan musibah.

Begitulah.. kita selalu fokus pada masalah. Selalu memandang berat setiap musibah. Selalu menganggap banyak orang yang memusuhi dan mempersulit kita. Padahal, semua masalah, musibah, musuh, dan setiap kekurangan itu – seperti gambar tadi – hanyalah setitik hitam kecil.  Sangat kecil jika dibandingkan dengan semua nikmat, sahabat setia, dan setiap kelapangan serta kemudahan – dianalogikan dengan warna putih pada gambar tadi – yang ada di sekelilingnya.

Mungkin seperti itulah sedikit gambaran tentang sudut pandang syukur: memandang secara luas semua nikmat yang diberikan oleh-Nya.

Kembali pada seorang tunanetra yang kita panggil Ustadz Juju tadi.

Dengan bahasa kesyukuran dan logat kepolosan, ia berujar, “Memang benar saya tidak bisa melihat dari kecil. Tak mampu membedakan siang dan malam, terang dan gelap, hijaunya tetumbuhan,  birunya langit dan lautan, serta warna-warni pelangi. Tapi aku bersyukur pada Allah. Sangat bersyukur. “

Ia lanjut bercerita, “Pada suatu waktu saya, makan malam bersama istr…i”, lalu ia menceritakan sekilas tentang istrinya, juga menyebutkan namanya, lalu melanjutkan lagi,  “…Lalu tiba-tiba listrik padam. Sang istri terpaksa menghentikan makannya untuk mencari lilin, mencari korek api. Setelah beberapa lama, akhirnya lilin telah menyala di atas meja makan. Baru saja si istri akan melanjutkan makannya, ia terkejut karena saya sudah menghabiskan makan malamku. Malahan nambah…”

Sambil tersenyum ia menyimpulkan, “itulah keuntungan orang seperti saya. Walaupun listrik padam, gelap gulitas, saya tetap bisa melanjutkan makan tanoa terganggu.”

Subhanallah… benar kata Rasulullah. Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin. Ketika dalam keadaan lapang ia bersyukur. Ketika ditimpa musibah ia bersabar. Dan itu semua baik baginya.

Tapi, dalam kasus seperti Ust. Juju ini, aku menemukanjarak yang sangat tipis antara syukur dan sabar, sangat dekat dalam cara menyikapi nikmat dan musibah.

Bagi orang seperti kita (termasuk saya), kebutaan adalah sebuah musibah yang tentunya disikapi dengan kesabaran. Tapi, menurut beliau, kebutaan yang dialaminya sedari kecil disikapinya sebagai salah satu hal yang mesti disyukuri.

Ustadz Juju, panggil saja ia seperti itu. Dari umur satu tahun, ia sudah tidak bisa membedakan siang dan malam, terang dan gelap. Tapi dari pria itu, aku belajar tentang kesyukuran. Sudut pandangnya tentang kesyukuran menyadarkan bahwa sungguh aku termasuk orang yang sedikit sekali bersyukur.

Semoga kita selalu bisa membenahi syukur kita pada-Nya.

Wallahu’alam.

Advertisements