Ketika sebuah komputer masih berukuran sangat besar dan menghabiskan tempat yang sangat besar di sebuah ruang yang cukup luas, Bill Gates bermimpi setiap rumah memiliki komputer. Tentu ia awalnya hanya dicap sebagai pengkhayal gila.

Ketika dua orang bocah miskin, Ikal dan Arai bersekolah di tempat yang tidak layak disebut sebagai sekolah, di tempat terpencil nan jauh dari keramaian kota, apalagi keramaian geliat sumber pendidikan, bahkan waktu belajar mereka pun tersita oleh kerja keras untuk makan, mereka berani bermimpi untuk menginjakkan kaki di sorbone dan berkeliling dunia. Tentu mereka hanya dikira sebagai bocah-bocah pemimpi yang aneh.

Ketika manusia hidup dalam kejahiliyahan yang mendarah daging. Saat ritual pagan dan penyembahan kolot pada patung-patung berhala menjadi rutinitas, wanita direndahkan serendah-rendahnya hingga bayi wanita yang dikubur hidup-hidup dianggap menyelamatkan martabat keluarga, serta peperangan saudara antar kabilah manjadi hal yang biasa. Muhammad, dihadirkan di sana, di sebuah dataran hijaz yang menjadi kubangan sejarah, bahkan Romawi maupun Persia pun tak tertarik untuk menjajah tanah itu. Sang Rasulullah bermimpi agar manusia hanya menyembah Rabb yang satu dan berakhlak mulia. Tentu beliau dianggap sebagai orang gila.

Tapi itulah kekuatan mimpi. Kekuatan yang mampu mengepakkan seluruh potensi, menancapkan akar keteguhan hati, menghadirkan setiap kemungkinan dan pertolongan yang mampu menerbangkan mimpi itu, serta menguatkan diri untuk terus berdoa dan percaya.

Berawal dari mimpi, Bill Gates telah membuktikan bahwa komputer manjadi kebutuhan masyarakat dunia. Ia membuktikan bahwa setiap rumah memiliki komputer. Bahkan sekarang, dapat dibawa ke mana pun dan masuk ke dalam tas. Dan ia menjadi seorang seorang miliarder dunia. Bayangkan, uang mengalir ke rekeningnya dalam hitungan kedipan mata!

Berawal dari mimpi, Ikal dan Arai membuktikan bahwa mereka mampu melanjutkan ke jenjang pendidikan yang jauh lebih tinggi. Mereka akhirnya menginjakkan kaki merka di altar Sorbone Prancis. Tak cukup sampai di situ, mimpi mereka yang lain pun terpenuhi. Benua Eropa mereka kelilingi hingga Rusia dan sebagian Afrika. Benar apa kata Arai, “Bermimpilah. Karna Tuhan akan memeluk mimpimu itu.”

Dan Rasulullah Muhammad juga membuktikan bahwa Allah ditauhidkan oleh manusia, dan akhlak umatnya menjadi teladan dunia hingga akhir zaman. Berawal dari lingkaran kecil penuh nafas iman di rumah Arqam ibn Abi Arqam, Rasulullah menanamkan akar mimpinya akan kemurnian aqidah dan kebesarana ajaran Islam. Lalu akarny terus kuat menghujam bumi, batangnya tumbuh kokoh menggapai langit. Cabang dan ranting-rantingnya menyeruak ke setiap sudut dunia. Meneduhkan. Memberikan nafas keimanan bagi penghuni bumi.

Itulah kekuatan mimpi.Kekuatan yang mampu mengepakkan seluruh potensi, menancapkan akar keteguhan hati, menghadirkan setiap kemungkinan dan pertolongan yang mampu menerbangkan mimpi itu, serta menguatkan diri untuk terus berdoa dan percaya.

Janganlah takut bermimpi, kawan. Kenali mimpimu itu. Tuliskanlah. Karna Tuhan memberikan pensil untuk kita. Sedangkan penghapus & pena ada pada-Nya. Tuliskanlah. Berprasangka baik lah pada-Nya. Biarkan Ia menghapus setiap goresan yang salah dengan penghapus itu dan menegaskan garis yang kita tulis dengan pena itu.

Sekali lagi kawan… jangan takut bermimpi!

Advertisements