Seorang pemuda tampak duduk tertunduk di keremangan kamarnya. Bingung. Gelisah. Takut. Harap. Cemas. Terlalu banyak rasa bercampur aduk. Terlalu banyak tanya berkecamuk. Di tengah kegalauannya, di dalam diamnya, ada pertengkaran rumit yang sedang terjadi.

“Sungguh, ini adalah kesalahan mata! Tak diragukan lagi. Karena ia adalah pintu masuk segala godaan nafsu dunia. Sungguh, ini memang kesalahan mata yang memandang!!!”, begitulah sang hati menyalahkan mata.

“Tapi kami hanya…”

“Kalian hanya tak bisa menundukkan dan mengalihkan pandangan. Itukah yang ingin kalian katakan?”, sang hati memotong pembelaan kedua mata. Ia tampak tersenyum puas. Merasa menang.

Lalu kedua mata yang nanar tadi berangsur menyorotkan pandangan dingin. Dengan sinis mereka berkata, “ Lihatlah dirimu wahai hati. Titik-titik hitam pada dirimu kini semakin menyebar. Semakin menyeruakkan kesan suram tanpa cahaya. Jika memang pria ini memiliki hati yang tak sekotor dirimu, tentu setiap pandangan matanya dapat dijaga. Tentu setiap pandangan kami sebagai matanya dapat ditundukkan.”

“Tapi bukankah semua tau bahwa ada ungkapan ‘dari mata turun ke hati’?”, sang hati mulai tersudut.

“Memang benar. Tapi hati kemudian yang memutuskan pandangan-pandangan berikutnya. Bila hati tunduk, maka mata juga tunduk.”, kilah kedua mata.

Sang hati terdiam sesaat. Sungguh telak argumen serangan balik itu.

Di sudut ruangan, pria itu tertunduk. Ia tampak linglung. Gusar. Bingung. Perdebatan antara hati dan matanya tadi tak diacuhkannya sama sekali. Sebelumnya mereka sempat menyalahkan nafsu. Tapi dengan sangat diplomatis, nafsu menerangkan bahwa ia adalah potensi yang membedakannya dengan malaikat. Jika dikelola dengan baik ia menjadi potensi kemajuan. Sedangkan jika tidak dikekang dan hanya mengikuti bisikan setan, ia menjadi sumber segala perbuatan mungkar.

Sang hati bingung. Memang ia salah. Kedua mata juga salah. Tapi ia benar-benar kalah argumen. Ia berusaha mencari celah lain untuk membela diri. Aha! Kebetulan ia teringat keberadaan setan di ruang itu. Sang setan tampak sedang bermalas-malasan. Berbaring dengan ditopang tangan kanannya. Sedang tangan kirinya sibuk menekan tombol benda kecil seperti handphone. Tampaknya ia sedang mengirim laporan kepada bosnya, atau mungkin sedang forward sms berita kegemilangannya ke teman-temannya. (atau mungkin sedang update status)

“Yang paling layak dipersalahkan adalah dia!” Sang hati menunjuk ke arah setan dan tentu mengagetkannya.

Tiba-tiba dipersalahkan, setan pun muntab, “Memang apa kesalahanku, wahai hati yang pekat?”

“Apa salahmu katamu? Jelas. Engkaulah yang selalu membisikkan kelalaian pada manusia. Engkaulah yang menghalangi  manusia dari kebaikan. Engkaulah yang menghembuskan kemalasan dan kesia-siaan pada mereka. Engkaulah yang selalu membantu hawa nafsu memenangkan semua tindak-tanduk mereka. Termasuk pria ini! Dan engkau pula yang membuatku hitam legam seperti ini!.”

Hati lebih muntab lagi. Ia kini semakin hitam pekat. Sebaliknya, setan malah berbalik sikapnya. Ia mulai tersenyum.

“Maaf.. itu semua bukan salahku. Tapi itu semua adalah tugasku!! Jangan salahkan aku yang telah melaksanakan tugas dengan sebaik mungkin. Hohohoho…”

Hati hanya terdiam. Sementara setan tertawa riang. Lalu ia melanjutkan penjelasannya.

“Ketahuilah.. bahwa kami, para setan hanya membisikkan kelalaian, menghembuskan keragu-raguan, mendorong nafsu untuk condong pada kemungkaran. Jika manusia hendak menempuh jalan ketaatan, kami hanya menghalangi dan memperlambat lajunya. Jika mereka melakukan kemaksiatan, kami selalu siap mendukungnya.”

“Ibnul Qoyyim rahimahullah dalam kitabnya Ighosatul Lahfan menjelaskan : “Jalan yang dilalui oleh manusia ada empat, (tidak lebih) terkadang arah depan dan arah belakang di jalan manapun ia lalui, ia akan menjumpai syaithan mengintai. Bila menempuh jalan ketaatan, ia menjumpai syaithan siap menghalangi atau memperlambat laju jalannya bila ia menempuh jalur kemaksiatan, ia akan menjumpai syaithan siap mendukungnya,” dengan fasih setan itu menjelaskan. Ternyata ia setan yang sangat terpelajar.

“Iblis, sebagai teladan kami telah mengikrarkan janjinya kepada Allah untuk menyesatkan manusia, ‘Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan menghalangi mereka dari jalan Engkau yang lurus. Kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan belakang mereka, dari kanan dan kiri mereka dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat).’ Janji itu telah terdokumentasikan di dalam Al-Quran, tepatnya pada surat Al-A’raf ayat 16 dan 17.”

Wah.. ternyata setan yang satu ini juga paham akan kitab Allah. Hebat. Dan ia terus bicara..

“Ini semua kesalahan kalian semua dan pria itu tentunya. Ia tidak bisa menahan pendangan mata dan hatinya. Ketahuilah bahwa kami melesat bak anak panah saat kedua pandangan seorang laki-laki bertemu dengan pandangan mata wanita. Ketahuilah, bahwa kami ada di setiap lekuk tubuh wanita. Hehe..”

“Kami hembuskan kelopak matanya saat ia hendak membaca Al-Quran. Kami bisikkan agar mereka selalu mengatakan kesia-siaan, kelalaian, kebohongan, gunjingan, dan fitnah. Kami bukakan telinga mereka lebar-lebar untuk mendengarkan semua ghibah atau gosip. Kami ikut mengalir dalam setiap aliran darah manusia melalui makanan haram yang masuk ke perut mereka. Dan beruntungnya, seiring perkembangan teknologi, semakin mudah akses kami melalu berbagai media, terutama televisi dan internet.”

“haghaghaghagzz..uhuk, uhuk!”, setan tertawa keras sampai terbatuk batuk. Pernyataan itu jelas juga menyalahkan lidah, telinga, perut, dan teknologi informasi tentunya.

“Sudah ah.. Aku terlalu banyak bicara. Aku menang hari ini. Aku mau mengambil hadiah liburan sebagai award keberhasilanku. Mungkin minggu depan aku dipanggil untuk promosi. Sebelum aku pergi, aku hanya ingin mengingatkan. Bahwa manusia tak akan bisa lari dari kami, kecuali orang-orang yang ikhlas.”

“Ehemm.. ada ayat penutup nich… ‘Iblis menjawab : “Demi kekuasaan Engkau, aku akan menyesatkan mereka semuanya. Kecuali hamba-hamba-Mu yang mukhlis di antara mereka. ” Allah berfirman: ” Maka yang benar (adalah sumpah-Ku) dan hanya kebenaran itulah yang Aku katakan. Sesungguhnya Aku pasti akan memenuhi neraka Jahannam dengan jenismu dan orang-orang yang mengikutimu di antara mereka semua.”

Setelah membaca Surat Shaff ayat 82 sampai 85 tadi (sungguh setan yang professional), ia meninggalkan tempat itu sambil berkata, “Aku berlepas diri dari apa yang telah manusia lakukan. Karna sesungguhnya aku pun takut pada Allah!”

Ruangan itu seketika sepi. Senyap. Semuanya terdiam. Dan pria itupun masih saja terduduk tanpa suara. Hingga akhirnya ia berucap lirih, “Astaghfirullah…”

Lalu ia terus beristighfar. Merasa kerdil di hadapan Allah. Malu yang tak terkira. Kemudian ada setitik cahaya keluar dari sang hati yang tadinya hitam pekat seiring dengan keluarnya setitik air mata di sudut mata pria itu. Perlahan titik cahaya itu melebar dan menyeruak memenuhi sang hati, sementara air mata sudah memenuhi pelupuk matanya, lalu mengalir membasahi pipi sampai ke dagunya.

“Dan Dialah yang menerima taubat dari hamba-hamba-Nya dan memaafkan kesalahan-kesalahan dan mengetahui apa yang kamu kerjakan”,  setiap tetes airmata menyenandungkan ayat itu. Ayat ke 25 dari Surat Asy-Syuura’.

Dari balik ruangan tampak setan tadi berjalan lunglai. Ia mendesah. “huff.. Aku harus menggoda pria ini lagi… hiks.” Ia pun tersedu.

 

 

Advertisements