Cinta adalah cara indah tuk beramal. Amal itu adalah sebuah kerja besar. Dan inti pekerjaannya adalah memberi. Seperti yang ditulis Anis Matta dalam Serial Cinta, para pecinta sejati hanya mengenal satu pekerjaan besar dalam hidup mereka: memberi. Terus menerus memberi. Dan selamanya memberi. Menerima? Mungkin, atau bisa juga jadi pasti! Tapi itu hanya efek. Efek dari apa yang mereka berikan.

Saya teringat akan sebuah kisah dari Cahaya Langit yang ditulis oleh Bobby Herwibowo. Sebuah kumpulan kisah nyata yang pernah melintas sebagai hikmah yang patut dipetik.

Seseorang berkisah bahwa ia pernah bekerja di sebuah perusahaan Yahudi. Ia sudah menjadi manusia yang kaya raya di usianya yang lagi belum mencapai 40 tahun. Lebih dari 200 negara sudah ia sambangi. Selama ini, harta dan seluruh kenikmatan dunia adalah tujuannya.

Namun dalam sebuah tugasnya di Maroko, Afrika Utara. Ia singgah di sebuah perkampungan muslim yang sederhana lagi bersahaja. Sebagai seorang muslim, kehadirannya di kampung itu disambut dengan baik oleh muslim di sana.

Ia dijamu makan, dan makanan untuk disantap pun sudah tersaji dihadapan. Namun tidak seorang pun mulai menyantap makanan dan ia pun belum lagi dipersilakan. Hingga seseorang datang ke dalam ruang makan lalu menyampaikan berita kepada tuan rumah dalam bahasa Arab. Usai itu, akhirnya ia pun dipersilakan untuk makan.

Saat menyantap hidangan itu, ia diberitahu oleh tuan rumah bahwa warga kampung muslim tersebut tidak akan pernah menyantap makanan, selagi mereka belum merasa yakin bahwa di luar sana tidak ada seorang pun yang kelaparan. Warga di dusun tersebut saling berbagi makanan antara satu rumah dengan yang lain. Dan orang yang datang sebelum santap makanan tadi, adalah pembawa kabar bagi tuan rumah yang menyampaikan bahwa ia sudah membagi makanan bagi penduduk kampung yang belum mendapat makanan.

Dan ia pun malam itu mendapat pelajaran berharga bahwa memberi dan berbagi kepada sesama akan membawa ketentraman dan kebahagiaan. Penduduk desa ini mayoritas adalah penduduk miskin, namun mereka bahagia dengan cara berbagi kepada sesama. Inilah pelajaran yang jauh berbeda dari apa yang ia dapatkan di perusahaan tempat ia bekerja.

Usai dari Maroko, ia ditugaskan untuk terbang ke Cairo, Mesir. Perjalanan bisnis malam itu membawa dirinya untuk menyewa sebuah taksi di sana. Taksi di kota Seribu Menara itu dimiliki oleh perorangan, dan kebanyakan armadanya sudah jelek dan bobrok.

Malam itu ia membuka pembicaraan dengan sopir taksi Mesir demi memecah kebekuan.

“Berapa uang yang kau hasilkan dalam sehari dengan membawa taksi seperti ini?” Ia melempar tanya kepada sopir taksi. Dibenaknya ia akan membayangkan betapa jauh penghasilan yang akan disebutkan oleh sopir taksi ini dibandingkan penghasilan yang ia dapatkan di perusahaan Yahudi terkenal.

“Aku tak membawa taksi ini seharian!” jawab sopir itu dengan bahasa Inggris sekenanya.

“Apakah kamu punya pekerjaan lain di luar sana?” kejarnya.

“Alhamdulillah, aku punya dua pekerjaan yang diberi Allah untukku. Dari pagi hari sampai sore aku bekerja di restoran, malam harinya aku menjadi supir taksi!” sahut sang sopir.

“Apakah hidup di Mesir sudah sedemikian sulit sehingga engkau harus bekerja double dan mencari nafkah sampai malam?” tanyanya lagi.

“Tidak…., hidup di negeri ini amat nikmat sekali! Dari pagi hingga sore aku mencari nafkah untuk diriku dan keluarga dan itu cukup untuk kami…” jelas sang sopir.

“Lalu mengapa engkau menjadi sopir taksi?” kejarnya lagi.

“Saudaraku…., hidup ini hanya sekali. Dan aku ingin hidup yang cuma sekali ini berarti untuk bekalku setelah mati. Maka sudah beberapa lama ini aku membawa taksi agar aku bisa mencari tambahan penghasilan dan kemudian aku sedekahkan kepada mereka yang  membutuhkan.” jelas sang sopir.

Degg…! kalimat itu terasa bagai kilat menyambar di hati. Betapa hebat niat sopir taksi itu gumamnya. Tak pernah dengan kekayaan yang dimiliki, ia bercita-cita mulia seperti itu. Tak berani ia meneruskan pembicaraan dengan sopir taksi. Dalam hati ia bergumam bahwa seluruh harta yang ia cari rupanya belum apa-apa, dibandingkan kekayaan hati yang dimiliki penduduk muslim miskin di Maroko dan supir taksi shalih yang ia temui di Cairo, Mesir ini.

…..

Itulah bentuk utama dari cinta: cara indah tuk beramal. Beramal dengan selalu memberi. Dan tentang sebuah cinta kepada pasangan jiwa, juga akan selalu dipenuhi dengan pekerjaan yang sama: memberi. Namun, bentuk dari cinta ini mungkin akan kita bahas di lain kesempatan.

Jauh menjelajah ke masa lalu. Kita belajar tentang cinta kepada sahabat Rasulullah. Seorang perkasa lagi mulia, ‘Umar ibn Khaththab. Saya menukil sebuah inspirasi dari Salim. A. Fillah dalam bukunya, Jalan Cinta Para Pejuang.

” Ya Rasulallah” kata ‘Umar perlahan, ” Aku mencintaimu seperti kucintai diriku sendiri”
Beliau SAW tersenyum. “Tidak wahai ‘Umar. Engkau harus mencintaiku melebih cintamu pada diri dan keluargamu.”
“Ya Rasulallah”, kata ‘Umar, “Mulai saat ini engkau lebih kucintai daripada apapun di dunia ini”
“Nah, begitulah wahai ‘Umar.”

Membaca kisah ini dulu saya takjub bertanya. Sebegitu mudahkah bagi orang semacam Umar ibn al-Khaththab menata ulang cintanya dalam sekejap? Sebegitu mudahkah cinta diri digeser ke bawah untuk memberi ruang lebih besar bagi cinta pada sang nabi? Dalam waktu yang sangat singkat. Hanya sekejap. Ah, alangkah indahnya jika saya bisa begitu. Bagi saya tak semudah itu. Cinta berhubungan dengan ketertawanan hati yang tak gampang dialihkan. Tetapi Umar bisa. dan mengapa ia bisa? Ternyata bagi umar cinta adalah kata kerja. Maka menata ulang cinta baginya hanyalah menata ulang kerja dan amalnya dalam mencintai. Ia tak berumit-rumit dengan apa yang ada dalam hati. Biarlah hati menjadi makmum bagi kerja-kerja cinta yang dilakukan oleh amal salihnya.

Bukan sekedar kata-kata. Karna cinta dipahami sebagai kata kerja, yaitu amal untuk memberi, kita sudah tahu seberapa besar kontribusi yang diberikannya kepada Rasulullah, dakwah, dan Islam. Ia berikan segalanya. Harta dan jiwa.

Karna memang cinta adalah cara indah tuk beramal. Karna memberi dengan amal adalah bentuk utama dari cinta. Apakah anda seorang pecinta? Jika “iya”, maka bersiaplah untuk selalu melakukan pekerjaan besar itu: memberi.

Advertisements