Hari ini awan gelap juga menutupi langit kota. Sama seperti langit kemarin. Sama seperti kemarin lusa. Tak ada petir menyambar. Hanya saja angin mengabarkan bahwa awan akan menumpahkan air hujannya hari ini. Tak ada guntur bergemuruh. Hanya saja deru mesin mobil dan motor memenuhi suasana kota yang turut mengiringi diantarkannya seseorang menuju rumah barunya. Rumah yang kurang dari dua meter persegi. Rumah penantian hingga ditiupnya sangkakala oleh Israfil untuk berjumpa dengan alam keabadian.

Entah mengapa, lengkingan sirene mobil jenazah itu – yang berpadu dengan klakson dan deru mesin kendaraan pengantarnya –  terdengar seperti komposisi instrumen kematian. Seperti sapaan Izrail. Menggetarkan jiwa-jiwa yang raganya tak abadi. Menggetarkan jiwa-jiwa yang tak tahu kapan sang Malaikat Maut akan menjemputnya

Hari ini Izrail hanya menyapaku. Menyapa secara langsung. Menyapa semua orang di sini. Karena setiap kematian yang manusia saksikan, dan juga setiap prosesi pemakaman yang mereka jalankan adalah sapaan lembut darinya. Mengingatkan bahwa cepat atau lambat perpisahan antara jasad dan jiwa manusia pasti terjadi. Dan berita di televisi atau di internet tentang kematian mendadak seorang artis, seorang pejabat, eksekusi mati seorang penjahat, bahkan bencana dengan korban ribuan jiwa pun adalah bentuk sapaan dari malaikat maut. Itu bentuk sapaannya sapaan lewat media. Bukan sapaan secara langsung.

…..

Aku teringat dua hari sebelum hari ini. Aku berada di sebuah bangsal sederhana di sebuah rumah sakit umum. Keadaan langit juga sama. Awan gelap menutupinya. Tapi itu tak menyurutkan niatku untuk membesuk ibunda teman satu kampusku – yang di dalam sms – dikabarkan sedang koma.

Aku salut dengan ketegaran sahabatku itu. Yang terbaring di sana adalah ibunya. Orang yang paling layak dicintai setelah Allah dan Rasulullah. Namun ia tampak begitu tegar. Senyum hangatnya masih bisa diberikan pada kami yang membesuk. Tak banyak yang bisa kami lakukan selain menjabat tangannya erat lalu menepuk pundaknya. Juga, membaca beberapa halaman dari Al-Quran.

Lalu aku tersadar. Ini bukan sekedar sapaan Izrail. Lebih dari sekedar sapaan. Ia seolah berdiri diantara kami. Tepat di hadapanku. Di samping seorang ibu yang anaknya tulus membisikkan ke telinganya, “Laa ilaaha illallah..”

Sayap-sayap Izrail menaungi tempat ini. Aku merasakannya. Gemuruh dada ini menyaksikan napas berat sang ibu. Seolah nyawa sudah di tenggorokannya. Putranya di sampingnya. Terus membisikkan kalimat Allah di telinganya, juga membaca lirih Qur’an di sampingnya. Sanak saudaranya ada yang menunduk dalam, ada yang menangis sedan.

Dalam bayang-bayang sayap Izrail, ada keharuan memenuhi dada. Ada penyesalan tentang perjumpaan yang tak abadi. Ada cinta yang membuncah di dada. Aku tak tahu apakah aku bisa setegar sehabatku itu. Lalu kuusap ujung-ujung mataku.

…..

Keesokannya, beliau akhirnya menghembuskan nafas terakhirnya.

Aku teringat beberapa baris puisi yang pernah kutulis beberapa tahun lalu. Saat seseorang juga meninggalkan dunia fana ini.

Cepat atau lambat

Jasad ini akan dimandikan

Aku tahu air itu hanya bisa membersihkan kotoran di tubuh

Tapi takkan bisa membersihkan kotoron hati dan jiwa ini

Takkan bisa membersihkan setiap noda dan dosa yang kuperbuat


Cepat atau lambat

Jasad ini akan dishalatkan

Aku tahu shalat yang dilakukan mereka tidak akan mengganti shalatku

Shalat yang selalu dilalaikan

Shalat yang jauh dari khusuk

Shalat yang tidak layak diterima


Cepat atau lambat

Izrail akan menjemputku

Entah besok..hari ini..

Bahkan mungkin saat goresan tinta ini dibaca oleh kalian

Aku sudah dipanggil-Nya

…..

Rinai menemani saat tubuh itu dimasukkan ke liang lahatnya. Lalu rinai itu mulai menyerbu sebagai rintik. Tepat setelah selasai pemakaman, rintik itu menjelma menjadi hujan deras. Tumpahlah semua air yang disimpan awan hitam itu. Entah langit turut berduka, atau memang ini adalah jadwal Mikail menyapa penduduk kota ini. Yang jelas, Izrail dan Mikail memang ditugaskan Allah untuk selalu menyapa manusia.

Advertisements