Tok.. tok.. tok…

“Assalamu’alaikum. . .”

Aku mencoba mengetuk pintu hatimu. Tapi tak kudengar jawab dari balik pintu itu. Entah, apakah kamu sedang  tak berada di sana, ataukah memang berat bagimu membukakan pintu untukku.

Memang, kesalahan dan khilafku sangat banyak. Terlalu banyak malah.

Ketika Allah membukakan lebar-lebar gerbang ampunan-Nya, maka tidak begitu dengan pintu maaf manusia. Karna gerbang ampunan-Nya dapat terbuka dengan kunci yang kita semua miliki, yaitu penyesalan dan taubat. Dan karna pintu maaf hanya dapat dibuka dari dalam oleh sang pemilik hati. Kunci itu berupa kelapangan dan keikhlasan yang hanya mampu disentuh oleh kesadaran dan ketulusan.

Tok.. tok.. tok…

“Assalamu’alaikum…”

Sekali lagi aku mencoba mengetuk pintu hatimu. Tak lama kemudian kudengar langkah-langkah kecilmu mendekati pintu ini. Tapi hanya mendekat.  Tanpa kudengar jawaban salam.  Tanpa membuka pintu itu sedikit saja. Itu memang hakmu. Karna hanya dirimu seorang yang memiliki kunci kelapangan dan keikhlasan untuk membukanya dari dalam sana.

“Aku tahu kamu ada di balik pintu ini,”, aku mulai bicara, “Dan aku tahu kesalahan dan kekhilafanku sangat banyak. Terlalu banyak. Baik yang kusadari atau tidak, baik yang kusengaja ataupun tidak.”

Aku bisa mendengar napas yang mendesah di balik pintu ini. Tapi masih tanpa kata-kata.

“Aku tahu, ketika mendengar suaraku, kamu akan kembali teringat setiap kata-kata  yang tajam, argumentasi yang menantang, kritikan yang pahit, dan canda yang menggores luka.”

“Aku tahu, ketika kamu nanti menatap mataku, kamu kembali akan teringat setiap pandangan sinis saat kamu memerlukan saran, setiap tatap acuh saat kamu butuh tempat berbagi, atau setiap sorot curiga saat kamu butuh kepercayaan.”

“Aku tahu, ketika kamu nanti melihat wajahku, kamu juga kembali akan teringat saat-saat ikatan kita merapuh, saat keakraban kita terserak, saat kebersamaan serasa siksaan, saat pemberian bagai bara api, saat kebaikan malah melukai, saat nasehat justru menyinggung perasaan, saat sapaan terasa hambar, saat senyum malah menggores hati.”

“Ketika Allah membukakan lebar-lebar gerbang ampunan-Nya, maka tidak begitu dengan pintu maaf dari dirimu. Karna gerbang ampunan-Nya dapat terbuka dengan kunci yang kita semua miliki, yaitu penyesalan dan taubat. Dan karna pintu maaf hanya dapat dibuka dari dalam olehmu. Kunci itu berupa kelapangan dan keikhlasan yang hanya mampu disentuh oleh kesadaran dan ketulusan.”

Tok.. tok.. tok…

“Assalamu’alaikum. . .”

Ini yang ketiga kalinya aku mengetuk pintu hatimu dan mengucapkan salam untukmu. Aku telah mengakui kesalahanku dari balik pintu hatimu. Dan aku tahu kamu dapat mendengar dengan jelas apa yang telah kuakui.

Aku menghela nafas panjang. Hanya satu kalimat terakhir yang belum kuucapkan. Kalimat yang mengandung kata yang paling berat untuk dikatakan kecuali bagi orang-orang yang memiliki kesadaran dan ketulusan.

“MAAFKANLAH AKU…”

Perlahan pintu itu terbuka. Dan aku dapat melihat senyum kelapangan dan keikhlasan dari wajahmu. lega rasanya.

Benar juga. Kelembutan nurani memberi kita sekeping mata uang yang palih mahal untuk membayarnya. Di keping uang itu, yang satu bertuliskan “akuilah kesalahanmu”, dan sisi yang lain berukir kalimat “maafkanlah saudaramu yang bersalah”

“Terimakasih karna telah memaafkanku. Terimakasih untuk persaudaraan yang manis ini. Tapi maaf sebelumnya. Aku tak bisa berlama-lama di sini. Masih ada ribuan pintu lagi yang harus kuketuk. Atau mungkin pintu yang memang tak berbilang yang seharusnya kuketuk juga.”

“Sekali lagi terimakasih. Wassalamu’laikum…”

Advertisements