Kehilangan bukanlah saat untuk meratapi, tapi saat untuk mengikhlaskan. Kehilangan bukanlah saat untuk menyalahkan siapapun, tapi saat untuk memperkokoh prasangka baik pada Allah.

Itulah nikmatnya ruh yang hidup dengan energi iman. Tak peduli apapun yang dititipkan ataupun diambil Allah darinya, prasangka baik pada Rabb-nya pun selalu mengiringi bersama ikhlas di hati.

Pada suatu ketika, sang panglima besar Islam, Khalid ibn Walid mengalami kehilangan yang besar saat akan berperang menghadapi pasukan Romawi. Ia kehilangan kesempatan untuk berjuang bersama Asyqar, kuda perang kesayangannya yang saat itu sedang sakit. Padahal, dalam peperangan itu, pasukan muslim di bawah komando Khalid yang berjumlah 30.000 prajurit harus menghadapi 180.000 pasukan Romawi dengan peralatan perang lengkap.

Beberapa saat sebelum perang berkecamuk, salah seorang jundiy-nya berkata: “Wahai Khalid! Begitu banyaknya pasukan Romawi itu, dan begitu sedikitnya pasukan kita!”

Tiba-tiba mata Khalid basah oleh air mata, lalu berkata: “Kepada Allah lah tempat kita berlindung. Katakanlah betapa banyaknya kaum Muslimin, dan betapa sedikitnya pasukan Romawi! Sungguh aku lebih menginginkan Asyqar sembuh dari sakitnya dan pasukan Romawi melipat gandakan jumlah pasukannya..”

Itulah Khalid ibn Walid, Sang Pedang Allah yang Terhunus. Sungguh, panglima Islam yang brilian ini tidak memandang jumlah musuh sebagai hal yang membuatnya cemas. Terbukti, dalam perang Mu’tah, pasukan muslim yang hanya berjumlah 3.000 pasukan dapat memukul mundur pasukan Byzantium beserta sekutunya di bawah komando langsung kaisar Heraklius yang berjumlah 200.000 pasukan. Dengan strategi cerdasnya, ia mengganti secara bergantian posisi pasukan depannya dengan pasukan yang ada di belakangnya, juga memerintahkan pasukannya untuk menghentak-hentakkan kaki ke tanah agar pandangan musuh terkelabuhi oleh debu, sehingga musuh mengira pasukan muslim terus mendapatkan pasukan tambahan yang lebih besar. Tentu, dan selalu, atas pertolongan Allah juga lah yang membuat gentar dan lemas jiwa para musuh dien-Nya itu.

Itulah Khalid ibn Walid. Ia mengatakan bahwa betapa banyaknya kaum Muslimin, dan betapa sedikitnya pasukan Romawi. Bukanlah ia mengada-ada, tapi Ia berprasangka baik pada Allah. Ia berprasangka baik bahwa pasukan muslim lebih besar kesempatan dalam memperoleh kemenangan dengan perlindungan dari Allah. Sedangkan pasukan Romawi lebih sedikit kesempatan menangnya. Ia berfikir tentang kualitas pasukan, bukan kuantitas.

Sungguh, ia tak pernah menganggap kemenangan yang selama ini diperolehnya hanya karena bantuan Asyqar, sehingga lebih memilih pasukan musuh yang jauh lebih besar menjadi berlipat ganda asalkan kuda perangnya tersebut kembali sehat dan berperang bersamanya lagi. Bukan itu. Sahabat Rasul tak akan berfirkir ke arah menuhankan sesuatu selain daripada Allah. Hanya saja, Asyqar adalah fasilitas sekaligus rekan dakwahnya. Sudah puluhan perang mereka lalui bersama. sudah ribuan kilo jarak yang mereka tempuh bersama. Saat kilauan pedang mengancam nyawa. Saat desingan anak panah mencoba menembus tubuh. Saat-saat mereka berjuang bersama menegakkan dien Allah yang mulia ini.

Lalu, prasangka baiknya pada Allah terbukti. Keikhlasannya terjawab. Hanya dalam waktu tiga hari, pasukan besar Romawi tersebut dapat diporak-porandakan barisannya, dikalahkan dengan kerugian yang sangat besar.

Benarlah adanya… Kehilangan bukanlah saat untuk meratapi, tapi saat untuk mengikhlaskan. Kehilangan bukanlah saat untuk menyalahkan siapapun, tapi saat untuk memperkokoh prasangka baik pada Allah.

Itulah nikmatnya ruh yang hidup dengan energi iman. Tak peduli apapun yang dititipkan ataupun diambil Allah darinya, prasangka baik pada Rabb-nya pun selalu mengiringi bersama ikhlas di hati.

Pada suatu ketika, Nabi Ayyub A.S. mengalami kehilangan yang teramat besar dalam hidupnya. Bukan hanya kekayaan, orang-orang yang disayanginya pun lenyap dari hidupnya. Bahkan, ia menderita penyakit yang menggorogoti seluruh tubuhnya. Sampai-sampai ia berdo’a, “Ya Allah, penyakit ini boleh jadi menggerogoti seluruh tubuhku. Tapi ya Rabb, jangan sampai penyakit ini juga menggeroti hati dan lisanku, sehingga aku masih mampu berzikir kepada-Mu.”

Itulah ketabahan Nabi Ayyub. Ia kehilangan semua yang ada padanya. Ia malah dititipkan penyakit yang membuat semua orang jijik padanya dan tak dapat disembuhkan. Ketabahan ini berlangsung dalam waktu yang sangat panjang hingga Allah mengembalikan kembali semua kehilangan yang dialami Ayyub.

Pada suatu ketika pula, Nabi Ya’qub A.S. juga mengalami kehilangan terbesar dalam hidupnya. Ia kehilangan Yusuf, buah hati yang sangat dicintainya, yang dikabarkan saudaranya dimakan binatang buas. Padahal, sang Yusuf kecil mereka buang ke sumur tua dan dalam hanya dikarenakan rasa iri mereka. Berpuluh-puluh tahun lamanya, Ya’qub mengira anaknya Yusuf telah benar-benar tiada, hingga akhirnya ia mendapati bahwa anaknya tersebut telah menjadi pejabat bendaharawan Mesir yang bijaksana dan terkemuka.

Dan, pada suatu ketika, Nabi Yunus A.S. pun mengalami kehilangan yang tak pernah disangka-sangka olehnya. Ia kehilangan kesempatan untuk menghirup udara dimuka bumi dan berjalan bebas di atasnya. Karena pada saat itu ia berada di dalamnya lautan, di dalam perut ikan paus yang pengab, sempit, dan pekat oleh bau yang menyesakkan. Yang dapat ia lakukan hanyalah mengharap ampunan dari Rabb-nya dengan do’a, dan tentunya berprasangka baik pada-Nya. Hingga akhirnya Allah mengampuninya, mengabulkan do’nya dan mengeluarkan Yunus dari perut paus tersebut.

Ketika semua yang dimilki lenyap. Ketika orang yang dicintai hilang. Ketika itu pula hamba Allah mencoba untuk berprasangka baik, bahwa itu hanyalah ujian iman dari-Nya. Itu hanyalah ujian cinta dari-Nya. Bahwa semakin cinta, semakin berat pulalah ujian cinta itu. Dan, setelah ujian itu selesai, dan terbukti sudah iman dan cintanya, maka semua akan dikembalikan, dengan yang lebih baik malah.

Seiring dengan kehilangan yang melingkupi sebuah kata ‘musibah’, maka dengan beriring prasangka baik pada Allah, kata itu bertransformasi persesepi menjadi sebuah kata yang sangat manis: ‘rahmat’.

Atau, ketika kehilangan beberapa nikmat, apakah berupa nikmat kesempatan, maupun nikmat sehat, prasangka baik pada Allah tetap mengiringi. Kadangkala Allah menegur kesalaha atau maksiat hamba-Nya dengan teguran yang unik. Teguran yang hanya diberikannya kepada hamba yang dikasihi-Nya dan hamba yang diakui-Nya sebagai penyeru dien-Nya yang mulia.

Dan juga, kehilangan yang melingkupi sebuah kata ‘musibah’, dengan beriring prasangka baik pada Allah akan bertransformasi persepsinya menjadi sebuah kata yang menyejukkan: ‘ampunan’.

Sungguh… Kehilangan bukanlah saat untuk meratapi, tapi saat untuk mengikhlaskan. Kehilangan bukanlah saat untuk menyalahkan siapapun, tapi saat untuk memperkokoh prasangka baik pada Allah.

Itulah nikmatnya ruh yang hidup dengan energi iman. Tak peduli apapun yang dititipkan ataupun diambil Allah darinya, prasangka baik pada Rabb-nya pun selalu mengiringi bersama ikhlas di hati.

Advertisements