Kubuka folder ‘My Videos’ yang tersimpan rapi di drive E harddisc. Sekedar mencoba membangunkan motivasi dan inspirasi yang tampak masih terlelap bersama nyenyaknya tidur di dinginnya malam tadi. Setelah beberapa file video full inspirasi dan motivasi yang berdurasi relatif pendek kutonton, ada satu lagi file video yang melirik minta dibuka: 08-09 KalamQ. Entah apa nama file aslinya. Yang jelas, namanya kuganti seperti itu agar berada pada list paling awal di dalam folder. Agar mudah menemukannya. Sebuah file video nostalgia, yang pernah membuat bulu mata para ikhwan Kalam terbasahi. Sesenggukan malah.

Mungkin ini adalah sebuah video biasa. Tak ada efek audio visual khusus. Tak memiliki alur cerita yang apik. Tak diperankan oleh aktor kenamaan. Tapi bagi kami, video ini adalah memorial kebersamaan, kumpulan rindu yang tersimpan rapi, dan semangat berjuang yang teredam oleh waktu yang telah bergulir. Saat kami mulai menitikkan ukhuwah sejati.

Video ini sebenarnya dibuat oleh panitia Syuro Akbar Kalam untuk disaksikan di sela-sela acara. Sayang, karena agenda sidang yang padat, video ini tak sempat disajikan dalam acara. Aku bahkan baru menontonnya beberapa hari setelah didemisioner. Dan sungguh tak sopan kawan-kawan pengurus Kalam yang kusayangi itu. Mereka ternyata telah menontonnya duluan dan menontonnya sendiri-sendiri tanpa memberikan file yang penting ini kepadaku. Dari pengakuan beberapa dari mereka, ternyata mereka sampai-sampai menitikkan air mata saat nonton video itu. Sebuah pengakuan yang mungkin sangat sulit untuk para lelaki. Yaitu mengakui bahwa mereka bisa menangis juga. Setelah ku-copy file itu, kami menontonnya bersama-sama.

Ketika dibuka, maka seketika itu pula memorial itu hadir kembali. Memorial kebersamaan itu seolah baru saja terjadi kemarin. Begitu dekat. Seolah masuk kembali ke masa itu. Masuk melalui gerbang selebar layar 14 inch. Lalu rindu yang tersimpan rapi dalam dada mulai terbuka. Lalu membuncah. Menggetarkan hati yang masih akrab dengan cinta yang pernah kami bangun. Cinta yang tumbuh dari benih ukhuwah. Benih itu kami dapat dari berbagai rasa yang kami alami selama berjuang bersama. Sungguh indah memori-memori itu. Ingin rasanya aku masuk ke layar 14 inch itu dan memeluk erat kebersamaan yang sangat indah itu. Lalu memperbaiki berbagai kelalaian dan ketertundaan yang terlaku dalam masa itu.

Karena itu, sangatlah wajar mata kami tergenang oleh air mata. Sangatlah wajar bulu mata ini terbasahi olehnya. Sangat wajar pipi kami terbasahi sampai ke janggut tipis di dagu ini.

Mungkin ini adalah sebuah video biasa. Tak ada efek audio visual khusus. Hanya kumpulan slide foto yang berhiaskan kata-kata yang dapat tercerap oleh hati. Hakikatnya, foto adalah bingkai menuju ke sebuah memori. Ia tak dapat membawa ke masa lalu, tapi dapat menghadirkan memori itu dalam imaji yang mampu diindra oleh jiwa. ketika tersusun apik menjadi slide video, dengan diiringi harmoni nada yang menghanyutkan perasaan, maka kekutan memori itu lebih menyebar sampai ke seluruh sudut di ruang hati.

Video ini hanya diiringi sebuah lagu instument yang menyentuh dan juga sebuah nasyid Brother, “Untukmu Teman”.

“Di sini kita pernah bertemu..
Mencari warna seindah pelangi…
Ketika kau menghulurkan tanganmu..
Membawaku ke daerah yang baru..
Dan hidupku kini ceria. . .
….
Kini dengarkanlah dendengan lagu tanda ingatanku..
Kepadamu teman…
Agar ikatan ukhuwah kan bersimpul padu.
Kenangan bersamamu takkan kulupa walau badai melanda..
Walau bercerai jasad dan nyawa. . .”

Mungkin ini adalah sebuah video biasa. Tak memiliki alur cerita yang apik. Tapi cukup menceritakan pahit manis perjalan dan perjuangan selama satu tahun pelayaran dakwah kami di lautan Fakultas Teknik. Tak diperankan oleh aktor kenamaan. Tapi tokoh-tokoh di situ mengingatkanku pada rindu yang teramat dalam pada kedalaman dan ketinggian ukhuwah. Mereka yang mengingatkan akan kebersamaan dalam suka maupun duka, kerja keras, persahabatan, dan kasih sayang antar saudara. Mereka yang mengajarkanku bahwa seberat apapun jalannya, sesulit apapun rintangannya, kita akan terus berjuang, walau sulit dan melelahkan.

Dan terakhir, aku ingin menuliskan kembali kata-kata yang menutup video indah itu. Untaian kata yang ketika bersinergi dengan slide memori dan harmoni nada, akan menghadirkan lagi memorial kebersamaan, kumpulan rindu yang membuncah, dan meluapkan semangat berjuang yang teredam oleh waktu yang telah bergulir.

“Wahai Ikhwah fillah…. ingatlah masa perjuangan itu.
Wahai ikhwah fillah… pahit manis perjuangan telah kita rasa bersama
Semoga Allah meridhoi persahabatan dan perpisahan ini
Semoga apa yang telah kita lakukan benar-benar ikhlas untuk mendapat ridho-Nya
Semoga Allah membayar jerih payah yang kita lakukan dengan syurga-Nya.
Perujuangan belum selesai…
Karena perjuangan seorang mukmin sejati akan selesai
Ketika kakinya telah menyentuh pintu surga.”

“Teruskan perjuangan ini. Lanjutkan estafet dakwah kalam.
Untuk teknik lebih baik.”

****

note: teruntuk Haris, Arief, Martin, Biqun, Cui, Sapta, Yogi, Lina, Chimot, Adek, Reni, Anis, dan pejuang-pejuang Kalam lain… Kita nanti reunian di Surga Ya. Kita sama-sama berusaha dan berdo’a untuk itu. Nanti salah satu agendanya reuninya, kita nonton bareng.

Advertisements