“Aku memang tidak mampu menggores langit dengan nama-Mu. Karna itu ya Allah… izinkan aku menoreh nama-Mu di hati setiap insan dengan goresan tintaku.”

Kata-kata tadi adalah sepotong tulisan yang menggerakkanku untuk terus menulis. Tapi kata-kata itu tampak menjadi hambar ketika tanpa diiringi dengan tulisan-tulisan nyata yang mengalir di setiap waktu yang terbuang tanpa manfaat. Sudah terlalu banyak momen yang terjadi, sudah terlalu banyak inspirasi yang terlintas, dan sudah banyak juga ilmu yang masih berkubang dalam pemahaman pribadi, tanpa dialirkan menjadi tulisan apapun.

Sebentar, aku ingin membela diri. . .

Sudah dua setengah bulan sejak aku terakhir menulis dan posting di blog. Harap dimaklumi, satu setengah bulan yang lalu adalah masa-masa akhir semester. Bagi mahasiswa arsitek, akhir semester adalah klimaks dari perjuangan dalam menyelesaikan tugas studio perancangan dan tugas-tugas lainnya yang bertumpuk. Selain itu, aku juga sering sakit-sakitan. Mulai dari sakit gigi sampai asthma yang kambuh seenaknya. Ditambah lagi, aku sempat mengalami kecelakaan kecil dan harus mengistirahatkan diri sampai dua pekan lamanya. Setelah ujian, aku disibukkan oleh bisnis yang baru akan kurintis. Aku bahkan sempat berkelana ke Pulau Jawa untuk membeli alat-alat cetak yang diperlukan untuk keberlangsungan usaha percetakan itu. Dan pastinya, kesibukan demi kesibukan organisasi kampus maupun luar kampus….

Tapi itu hanya PEMBENARAN. Tak lebih.

Sungguh, sangatlah mudah mencari-cari alasan.

Padahal, Pena inspirasi tersumbat oleh kelalaian. Tinta ilmu tercecer bersama kekhilafan. Lembar memori terkotori karena kesia-sian. Dan jari-jari ini, kaku terbelenggu kebiasaan menunda. Bahkan ruh, kering kerontang tanpa kekuatan untuk menggerakkan.

Dan ternyata setan, musuh besar manusia pun punya andil yang sangat berpengaruh. Ia yang membisikkan, membuat lalai, menjerat dengan rantai menunda, menyamarkan pemahaman, dan menghembuskan keraguan. Malangnya, aku termasuk manusia yang menjadi targetnya. Dari bisikan yang membuat lalai, kelalaian menyia-nyiakan waktu, hingga akhirnya waktu yang terbuang oleh selalu menunda.

Memang, aku memahami menulis adalah pekerjaan akal, hati, jiwa, dan ruh. Di situ, setan menemukan jalan untuk mengaburkan pemahanku. Aku memahami bahwa ruh berbanding lurus dengan ubudiyah yang juga berbanding lurus dengan amal yaumi (amalan harian). Dan sekali lagi, aku memahami bahwa menulis adalah pekerjaan akal, hati, jiwa, dan ruh. Inspirasi atau ide yang harus segera ditulis datangnya tak dapat dipaksakan. Selalu datang tiba-tiba. Ketika inspirasi itu datang, dan ketika itu pula aku melewatkan satu amal yaumi, (misal: qiyamul-lail, atau tilawah tidak memenuhi target), maka ketika itu pula aku ragu untuk menggoreskan tinta inspirasi yang memang harus segera dituliskan itu. Keraguan itu membuat ketertundaan, dan ketertundaan membuat menguapnya inspirasi bersama lunturnya semangat, walaupun keesokan harinya aku bisa memenuhi amal yaumi yang terlewatkan itu.

Dan aku selalu berkutat pada pemahaman yang kabur dan keraguan semu itu.

Sampai akhirnya aku mendapatkan suatu pencerahan.

Beberapa hari yang lalu, ketika aku mengantar Ust. Salim A. Fillah dari Masjid Unsri Bukit menuju Wisma – tempat beliau istirahat – di Pusri, aku menanyakan perihal pemahaman yang kabur dan keraguan yang semu itu.

Sambil tetap memperhatikan suasana kota Palembang dari balik jendela mobil, beliau tertawa kecil, lalu menjawab…

“Menulis adalah ibadah kepada Allah. Memenuhi amal yaumi juga ibadah kepada Allah. Idealnya keduanya berjalan beriringan. Tapi jangan sampai yang satu malah menghambat, bahkan menghentikan yang lain. Jangan sampai niat untuk memenuhi amal yaumi bergeser untuk menulis, bukan lagi untuk Allah semata.”

Benar juga… Semuanya adalah ibadah. Dan orientasinya hanyalah untuk Allah. Aku jadi teringat lagi kata-kata beliau di forum yang lain: “Yang perlu diperhatikan dalam menulis bukanlah ‘How’, tapi ‘Why’… Yang perlu diperhatikan dalam menulis bukanlah bagaimana kita menulis, tapi mengapa kita menulis…” Karena yang penting adalah alasan menulis, karena yang penting adalah niat dan orientasinya, yaitu karena Allah.

***

Sungguh, menulis adalah pekerjaan besar yang dilakukan oleh orang-orang besar. Orang-orang yang memiliki kekuatan hati, jiwa, ruh, dan akal. Kekuatan untuk mengalirkan hasil sinergi dari cerapan indra, memori, dan imajinasi menuju ke ujung-ujung jari. Lalu membentuk sinergi kata-kata yang memiliki kekuatan. Kekuatan kata yg tersusun apik. Kekuatan yang mampu menyatukan hati, meledakkan potensi, bahkan mampu merusak sinergi.

Karena itu, Tuhan mengamanahkan setiap kata-kata-Nya pada insan terbaik dan generasi terbaik. Karena itu, pena-pena inspirasi dititipkan pada insan yg berhati lembut. Karena itu, tinta ilmu dititipkan pada insan berjiwa tangguh. Karena itu, lembar sejarah dititipkan pd insan pemilik ruh nan kokoh.
Sungguh tak berbanding dengan tinta sejarah yang pernah mereka toreh di langit peradaban.
Sangat jauh dibanding coretan kecilku di kertas lusuh dan lapuk ini..

Tolong jangan dibandingkan.

Aku hanya ingin menjadi setitik awan kecil di langit yang indah itu.

Sehingga bila Dia brtanya: “mengapa kau memilih di jalan ini?”
Sembari tertunduk aku akn mnjawab,
“untuk menggapai Ridho-Mu”

Advertisements