Satu setengah abad lalu, Rasullullah SAW tercinta memulai menanamkan benih dakwahnya. Di tengah tanah tandus Arab yang terkubang oleh sejarah, tersisih dari peradaban Persia dan Romawi. Sungguh sebuah perjuangan yang sangat berat dan besar untuk menumbuhkan benih tauhid di tanah itu. Tanah yang menghanguskan siapapun berdiri kokoh dengan imannya, diterpa oleh badai kesombongan kafir Quraisy, disengat oleh racun kedengkian yang mengalir di setiap aliran darah mereka.

Perlahan-lahan benih dakwah itu tumbuh dalam siraman tarbiyah Rasulullah, murabbi sepanjang masa, dimulai dari lingkaran halaqah di rumah Arqam bin Abi Arqam. Hingga benih itu menancapkan akarnya ke tanah, mengeluarkan benih yang akan melesat tumbuh tak tegoyahkan. Sampai akhirnya pohon dakwah menjulang, mengakar kuat di bumi Allah, dengan batang yang tak terguncang oleh angin sekencang apapun, dengan cabang-cabang dan dahan-dahan yang tak henti-hentinya tumbuh ke seluruh penjuru dunia, memberikan keteduhan bagi setiap jiwa, memberikan atmosfer yang melapangkan dada dan fikri setiap insan.

Dan kita adalah bagian dari pohon itu. Kita adalah daun-daun yang tumbuh dari salah satu rantingnya.
Sebagaimana kita ketahui, daun setiap harinya mendapat sumber energi dan cahaya dari matahari. Sedangkan sebagai daun yang tumbuh di pohon dakwah ini, kita setiap waktunya menerima cahaya dari Sang Pemilik Cahaya yang takkan pernah padam. Cahaya itulah yang menerangi akal dan jiwa dengan iman. Cahanya itulah yang selalu membimbing setiap langkah. Cahaya itulah yang membakar semangat untuk membela agama yang diridhoi Allah ini.

Sebagaimana kita ketahui pula, daun menerima pasokan mineral dan air dari akarnya. Sedangkan di pohon dakwah ini, jarak antara akar dan kalian sebagai daun-daunnya amatlah jauh. Ya, sumber itu begitu jauh, terbetang satu setengah abad. Tak lain sumber itu adalah Al-Qur’an dan teladan Rasulullah tercinta. Tapi, dengan jarak sejauh itu, kemurniannya akan tetap selalu terjaga sebagai tuntunan setiap langkah kita.

Itu saja tidaklah cukup. Adalah hal yang sia-sia bila segala yang didapat dan dipunyai tersebut tidak kalian realisasikan dengan amal. Apalah gunanya daun-daun apabila tidak melakukan proses fotosintesis? Cahaya yang diterima takkan menjadi energi bila tanpa proses pengamalan. Al-Qur’an dan teladan Rasulullah hanya akan menjadi literatur sejarah masa lalu bila tanpa proses pemahaman dan perbuatan. Jangan biarkan diri kita berguguran hanya karena angin sepoi-sepoi dunia. Jangan biarkan diri ini digeroti ulat kekufuran dan kefuturan yang begitu lapar memburu muslim yang lemah. Dan jangan biarkan diri ini kering lalu jatuh terlepas dari dahan dakwah ini dikarenakan tidak dapat melakukan peoses fotosintesis amal.

Maka dari itu bergeraklah! Lakukanlah fotosintesismu, sehingga bersama-sama kita dapat memberikan keteduhan bagi setiap jiwa, memberikan atmosfer yang melapangkan dada dan fikri setiap insan.

Advertisements