Aku menelusuri jalan itu. Di antara remang-remang permulaan malam, ketika matahari hampir menarik seluruh sinarnya dan rembulan mengintip di balik awan. Kaki terus menapak, lunglai. Sedangkan kedua mata ini, dengan seksama memperhatikan setiap sudut jalan yang memang tidak punya lampu jalan, hanya dibantu cahaya lampu teras rumah di sepanjang jalan.

Sekantong plastik jingga yang kucari. Isinya hanya bungkusan rapi dari Koran. Ya..hanya itu. Tidak lebih. Bahkan isinya pun aku kurang tahu.

Seperti biasa, setiap pulang dari kampus, dengan penat dan lelah yang memuncak – mengingat jarak kampus ke kota sekitar 32 km – adalah hal yang wajar bila mahasiswa tertidur di bus. Bangku paling depan, samping kiri sopir dekat jendela adalah salah satu tempat favoritku di bus. Selain mempunyai view yang istimewa, dashboard bus yang ada di depan bangku sangatlah fungsional. Aku bisa meletakkan berbagai instrumen perkuliahan, mulai dari map, tabung gambar, sampai jaket sekalipun. Kantong plastik jingga itu aku letakkan di situ. Dan aku tertidur.

Begitu cerobohnya aku ini! Kantong itu tertinggal. Rasa sesal berkecamuk. Bersalah. Panik. Merasa begitu berdosa. Ini bukan masalah seberapa berharga atau mahalnya isi yang ada di dalam plastik itu. Tapi ini mengenai setetes hidayah dan amanah. Ini menyangkut niat untuk berubah dan menolong. Tapi aku telah merusaknya.
Aku langsung menghambur tanpa arah setelah berbuka hanya dengan minum dan shalat di masjid terdekat. Kemana harus kucari bus itu? Yang jelas, aku akan coba mencari di sepanjang jalan dari Cinde sampai Tamsis. Bus mahasiswa banyak yang diparkir dan antre di situ, walaupun ada kemungkinan diparkir di tempat lain atau dibawa ke rumah sopirnya.

Sekantong plastik jingga yang kucari. Isinya hanya bungkusan rapi dari Koran. Ya..hanya itu. Tidak lebih. Bungkusan itu adalah kado dari teman-teman akhwat di kampus untuk adikku, Tika.  Adikku itu memutuskan memakai jilbab bulan September ini. Tidak mudah untuk memberikan pemahaman ke Tika untuk menutup auratnya. Mulai dari diskusi, merekomendasikan baca buku, sampai menggunakan wallpaper desktop tentang Surat Al-Ahzab ayat 59. Akhirnya secercah hidayah itupun datang kepadanya. Aku tidak peduli hidayah itu atas usahaku sendiri atau bukan. Soalnya dia pernah bercerita tentang temannya yang memang lebih dulu menutup rapat auratnya dan ketertarikannya pada aura positif mbak-mbak yang memakai jilbab panjang.

Aku terdiam. Begitu banyak bus yang berderet di sana, tapi tak ada satupun sopir ataupun kernetnya. Semuanya terkunci. Hanya seorang nenek pemilik warung gerobak kecil. Apa boleh buat, dialah satu-satunya orang yang bisa kutanyai.

“Maaf Nek, di mana para sopir dan kernet bus-bus ini?”, tanyaku

“Mereka sudah pulang semua. Ada apa ya?”

“Ada barang yang tertinggal di bus”

“kalau mau nyari, besok!”, jawabnya singkat.

Aku bertambah bingung. Apa yang harus kulakukan? Harus cari cara lain. Kutelpon teman yang duduk bersebelahan denganku di bus tadi. Sama sepertiku, dia tidak ingat ciri fisik bus itu, sticker yang menjadi khas setiap bus, apalagi plat nomornya. Tapi ada satu petunjuk. Dia ingat ada boneka Marsupilami kuning menggantung di kaca depan bus tepat di depan bangku kami. Ada setitik harapan.

Aku menelusuri jalan itu. Jalan sepanjang Cinde dan Tamsis. Di antara remang-remang maghrib dan Isya’, ketika matahari hampir menarik seluruh sinarnya dan rembulan mengintip di balik awan. Kaki terus menapak, lunglai. Sedangkan kedua mata ini, dengan seksama memperhatikan setiap sudut jalan, mencari Marsupilami kuning bergantung di depan kaca bus. Sia-sia. Tidak kutemukan. Walaupun ada beberapa bus yang memiliki boneka Marsupilami kuning, tapi posisinya bergelantung tidak sesuai dengan bus yang kunaiki tadi. Seandainya kutemukan Marsupilami itu, aku bertekad menunggu sampai sopir atau kernetnya datang besok pagi.

Sekantong plastik jingga yang kucari. Isinya hanya bungkusan rapi dari Koran. Ya..hanya itu. Tidak lebih. Aku merasa sangat bersalah pada teman-teman akhwat yang begitu ikhlas, begitu semangat menyambut hijrahnya seorang akhwat baru. Sore itu aku begitu suprize oleh sekantong plastik jingga dari Yanti. Dan aku yakin, Tia dan Santi juga punya andil dengan bungkusan ini. Karena bingkisan itu dari mereka untuk adikku, aku dapat menebak isinya. Kemungkinan beberapa lembar jilbab beserta rok panjangnya atau satu set pakaian muslimah. Dan satu lagi, mushaf Al-Qur’an. Karena Yanti mengingatkan untuk tidak meletakkan bungkusan itu sembarangan, aku berkesimpulan pastilah itu kitab suci Al-Qur’an. Begitu teganya aku menghilangkan bingkisan yang berisi manfaat untuk adikku itu, diberi dengan ketulusan, dibalut dengan semangat persaudaraan.

Aku terus menelusuri jalan itu. Tampaknya matahari sudah sepenuhnya menarik sinarnya. Aku terus mencari sampai ke pangkalan bus yang lain, di Lemabang. Sayangnya di sana lebih parah. Hanya ada tiga bus yang terparkir di sana. Semuanya bukan bus yang kucari. Pencarian tetap kulanjutkan. Meski kini tanpa arah lagi, kedua mata ini terus sibuk mencari bus yang dimaksud.

Setelah shalat Isya’, Gemuruh kegalauan mulai mereda. Percik-percik kesejukan setelah shalat cukup membantu meredakannya. Dada mulai lapang, tidak sesempit yang kurasakan sebelumnya. Memang Allah Maha Pengampun. Aku merasa lega mengingat hal itu. Tapi bagaimana dengan manusia? boleh jadi mereka mengatakan bahwa mereka memaafkan kesalahanku, tapi goresan di tertoreh di hati mereka takkan pernah hilang. Memori mereka tentang kesalahanku ini takkan terhapus. Kepalaku begitu berat karena memikirkan hal itu. Lunglai aku berjalan menusuri jalan. Lelah fisik. Lelah batin. Riuh ribut kendaraan tak kepedulikan. Kumengadah ke langit malam, tanpa bintang. Perlahan-lahan awan berarak membiarkan sang purnama keluar. Bundar, putih, indah. Sinarnya mengguratkan senyum, seolah-olah bersimpati dengan keadaanku. Kemudian dua sorot cahaya kuning menyilaukan mendekatiku. Begitu garang melintasi jalan. Semakin dekat. Entah mengapa aku hanya kaku tanpa gerak. Sorot lampu yang begitu tajam itu membuat lenyap pandangan di sekitar. Aku tak tahu harus menghindar ke arah mana. . .

Semuanya hanya gelap. Kelopak mata ini begitu berat membuka. Setiap sendi tubuh ini begitu ngilu. Begutu lelah aku hari ini. Lalu yang kurasakan, semakin lama semakin aku terlelap. Aku hanya berharap kedua kelopak mata ini masih dapat terbuka esok pagi. Aku dapat melihat sinar keemasan mantari fajar. Menemukan sekantong plastik jingga itu. Dan melihat Tika tersenyum manis sambil memeluk mushaf Al-Qur’an, dengan jilbab dan pakaian taqwa yang menghiasi pesona adikku itu.

*****

 

 

Advertisements